Pengaruh Variasi Elevasi Kaki Terhadap Peningkatan Mean Arterial Pressure Pada Pasien Pasca Sectio Caesarea Dengan Spinal Anestesi di RSUD Sleman
DOI:
https://doi.org/10.54100/bemj.v9i2.861Keywords:
Elevasi Kaki, Mean Arterial Pressure, Sectio Caesarea, Spinal Anestesi, HipotensiAbstract
Latar Belakang: Hipotensi merupakan komplikasi yang paling sering terjadi pada pasien sectio caesarea dengan spinal anestesi, dengan insidensi mencapai 83,6%. Elevasi kaki merupakan intervensi nonfarmakologis yang dapat meningkatkan mean arterial pressure (MAP). Namun, belum ada penelitian yang menyebutkan berapa derajat elevasi kaki yang paling optimal. Metode: Penelitian ini menggunakan desain quasi-experimental dengan pendekatan nonequivalent control group design. Sampel berjumlah 45 responden. Pengukuran MAP dilakukan sebelum dan sesudah intervensi menggunakan bedside monitor. Analisis data menggunakan uji Kruskal-Wallis dilanjutkan dengan uji Mann-Whitney dengan koreksi Bonferroni (α = 0,0167). Hasil: Rerata peningkatan MAP pada kelompok elevasi 20° adalah 10,07 ± 2,492 mmHg, sedangkan pada kelompok elevasi 30° adalah 18,93 ± 4,448 mmHg. Kelompok kontrol justru mengalami penurunan MAP sebesar -4,67 ± 8,406 mmHg. Hasil uji Kruskal-Wallis menunjukkan nilai p = 0,000 (p < 0,05), dan uji Mann-Whitney pada ketiga perbandingan kelompok menunjukkan nilai p = 0,000 (p < 0,0167), yang berarti terdapat perbedaan bermakna antar kelompok. Simpulan: Terdapat pengaruh variasi elevasi kaki terhadap peningkatan MAP pada pasien pasca sectio caesarea dengan spinal anestesi. Elevasi kaki 30° memberikan peningkatan MAP paling tinggi dibandingkan elevasi 20° maupun kelompok kontrol. Saran: Diharapkan peneliti selanjutnya dapat memperluas cakupan dan teori dalam penelitian, serta lebih memperhatikan variabel-variabel pengganggu lainnya.
Kata Kunci : Elevasi Kaki, Mean arterial pressure, Sectio Caesarea, Spinal Anestesi, Hipotensi


