Pengaruh Pemberian Wedang Jahe Terhadap Frekuensi Hiperemesis Gravidarum Pada Ibu Hamil Trimester Pertama Di Wilayah Kerja Polindes Rejoyoso Puskesmas Wonokerto
DOI:
https://doi.org/10.54100/bemj.v9i2.966Keywords:
Ginger Infusion, Hyperemesis Gravidarum, First-Trimester Pregnant Women, Complementary Therapy, Village MaternityAbstract
AbstrakHiperemesis gravidarum merupakan kondisi mual dan muntah berlebihan pada ibu hamil tri mester pertama yang dapat menyebabkan dehidrasi, ketidakseimbangan elektrolit, serta gangguan nutrisi pada ibu dan janin. Di wilayah pedesaan seperti Polindes Rejoyoso, Puskesmas Wonokerto, keterbatasan akses layanan kesehatan dan mahalnya obat-obatan farmakologis menjadi kendala utama dalam penanganan kondisi ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian wedang jahe terhadap frekuensi hiperemesis gravidarum pada ibu hamil trimester pertama di wilayah tersebut. Penelitian kuantitatif dengan desain quasi-eksperimental one-group pretest-posttest ini melibatkan 18 responden yang dipilih secara purposive sampling. Intervensi berupa pemberian wedang jahe dari 20 gram jahe merah yang direbus dengan 200 ml air, diberikan dua kali sehari selama tujuh hari. Hasil penelitian menunjukkan penurunan frekuensi muntah yang signifikan: sebelum intervensi, 61,1% responden mengalami hiperemesis sedang dan 16,7% berat; setelah intervensi, tidak ada lagi responden dengan kategori berat, 66,7% masuk kategori ringan, dan 11,1% tidak muntah sama sekali. Uji Wilcoxon Signed Rank Test menghasilkan nilai p = 0,0005 (p < 0,05), yang membuktikan adanya pengaruh signifikan. Kandungan gingerol dan shogaol dalam jahe berperan sebagai antagonis reseptor serotonin 5-HT3 serta memberikan efek relaksasi pada saluran cerna. Penelitian ini menyimpulkan bahwa wedang jahe efektif, aman, dan terjangkau sebagai terapi komplementer untuk mengurangi frekuensi hiperemesis gravidarum, serta dapat diintegrasikan ke dalam standar asuhan kebidanan di fasilitas kesehatan dasar.
Kata Kunci: Wedang Jahe, Hiperemesis Gravidarum, Ibu Hamil Trimester Pertama, Terapi Komplementer, Polindes
Abstract
Hyperemesis gravidarum is a condition of excessive nausea and vomiting in first-trimester pregnant women that can lead to dehydration, electrolyte imbalance, and nutritional disorders for both mother and fetus. In rural areas such as Polindes Rejoyoso, Wonokerto Community Health Center, limited access to healthcare services and high costs of pharmacological drugs are major obstacles in managing this condition. This study aimed to determine the effect of giving ginger infusion (wedang jahe) on the frequency of hyperemesis gravidarum in first-trimester pregnant women in that area. This quantitative study employed a quasi-experimental one-group pretest-posttest design involving 18 respondents selected through purposive sampling. The intervention consisted of ginger infusion made from 20 grams of red ginger boiled with 200 ml of water, administered twice daily for seven days. The results showed a significant reduction in vomiting frequency: before intervention, 61.1% of respondents experienced moderate hyperemesis and 16.7% severe; after intervention, no respondents remained in the severe category, 66.7% fell into the mild category, and 11.1% experienced no vomiting at all. The Wilcoxon Signed Rank Test yielded a p-value of 0.0005 (p < 0.05), confirming a significant effect. The gingerol and shogaol compounds in ginger act as serotonin 5-HT3 receptor antagonists and provide a relaxing effect on the gastrointestinal tract. This study concludes that ginger infusion is effective, safe, and affordable as a complementary therapy to reduce the frequency of hyperemesis gravidarum, and can be integrated into standard midwifery care protocols at primary healthcare facilities.
Keywords: Ginger Infusion, Hyperemesis Gravidarum, First-Trimester Pregnant Women, Complementary Therapy, Village Maternity


