Hubungan Frekuensi Kunjungan ke Posyandu dengan Stunting Balita di Posyandu Ki Hajar Dewantara Wilayah Kerja Puskesmas Godean II Sleman
DOI:
https://doi.org/10.54100/bemj.v9i1.501Keywords:
Stunting, Frekuensi Kunjungan PosyanduAbstract
Stunting merupakan masalah gizi kronis yang masih menjadi tantangan serius di Indonesia, terutama pada anak usia dini. Kondisi ini berdampak jangka panjang terhadap pertumbuhan fisik, perkembangan kognitif, dan kualitas hidup anak di masa depan. Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) memiliki peran penting dalam pemantauan tumbuh kembang anak melalui penimbangan, pengukuran tinggi badan, imunisasi, dan penyuluhan gizi. Namun, rendahnya frekuensi kunjungan balita ke Posyandu diduga berkontribusi terhadap tingginya angka stunting. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan antara frekuensi kunjungan Posyandu dengan kejadian stunting pada balita di Posyandu Ki Hajar Dewantara, wilayah kerja Puskesmas Godean I Sleman. Metode yang digunakan adalah kuantitatif dengan desain observasional analitik. Sampel terdiri dari 45 balita usia 12–59 bulan yang dipilih dengan teknik total sampling. Data frekuensi kunjungan diperoleh dari rekapan kader Posyandu selama satu tahun terakhir, sedangkan status gizi diukur berdasarkan tinggi badan menurut umur (TB/U) menggunakan aplikasi WHO Anthro. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat dengan uji Chi-square dan alternatif uji Fisher’s Exact. Hasil uji statistik menunjukkan tidak terdapat hubungan signifikan antara frekuensi kunjungan Posyandu dengan kejadian stunting (p = 0,199). Uji Fisher’s Exact dipilih karena adanya sel dengan frekuensi kecil, sehingga lebih tepat untuk jumlah sampel kecil dan distribusi data tidak merata. Temuan ini mengindikasikan bahwa faktor lain selain frekuensi kunjungan Posyandu mungkin berperan dalam kejadian stunting, sehingga diperlukan penelitian lanjutan untuk mengidentifikasi faktor-faktor tersebut guna mendukung upaya pencegahan stunting secara efektif.


