Hubungan Tingkat Stres dengan Emotional Eating Mahasiswa Gizi Tingkat Akhir Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta
DOI:
https://doi.org/10.54100/bemj.v9i1.613Keywords:
Emotional Eating, Stres, Mahasiswa Gizi, Kesehatan MentalAbstract
Emotional eating merupakan perilaku makan berlebihan yang muncul akibat emosi negatif terutama stres, bukan karena rasa lapar. Fenomena ini cukup sering dialami mahasiswa tingkat akhir yang sedang menghadapi tuntutan akademik seperti skripsi. Emotional eating dapat memengaruhi kesehatan fisik, misalnya meningkatkan risiko obesitas dan penyakit metabolik, serta kesehatan mental seperti kecemasan hingga depresi. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan tingkat stres dengan emotional eating pada mahasiswa gizi tingkat akhir Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta. Jenis penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan desain cross-sectional. Sampel penelitian adalah mahasiswa gizi tingkat akhir Universitas ’Aisyiyah Yogyakarta sebanyak 86 responden dipilih menggunakan teknik Random Sampling. Instrumen yang dipakai adalah Perceived Stress Scale (PSS-10) untuk mengukur tingkat stres dan Emotional eater questionnaire (EEQ) untuk menilai perilaku emotional eating. Pengumpulan data dilakukan secara daring, kemudian dianalisis dengan uji Chi-Square menggunakan aplikasi statistik. Hasil penelitian menunjukkan 46,5% responden tergolong mengalami emotional eating, sementara 87,2% berada pada kategori stres sedang hingga berat. Uji statistik memperlihatkan tidak ada hubungan yang signifikan antara tingkat stres dengan perilaku emotional eating dibuktikan dengan (p kurang lebih 0,94). Kesimpulannya, stres tidak terbukti berhubungan langsung dengan emotional eating pada mahasiswa gizi tingkat akhir. Hal ini diduga karena adanya faktor pelindung seperti pengetahuan gizi, keterampilan mengelola stres, dan dukungan sosial. Disarankan mahasiswa membiasakan manajemen stres yang sehat, seperti olahraga ringan, teknik relaksasi, agar terhindar dari dampak negatif jangka panjang.


