Hubungan Tingkat Stres Terhadap Gejala Premenstrual Syndrome (PMS) Pada Mahasiswi Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta
DOI:
https://doi.org/10.54100/bemj.v9i1.577Keywords:
Premenstrual Syndrome, Stress, Mahasiswi, DASS-SAbstract
Premenstrual Syndrome (PMS) yaitu kumpulan gejala fisik , psikologis, dan perilaku yang terjadi sebelum menstruasi dan dapat mengganggu aktivitas sehari-hari wanita. Stres menjadi salah satu faktor yang dapat memperparah gejala PMS melalui ketidakseimbangan hormone yang dipicu oleh tekanan psikologis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat stres dengan gejala PMS pada Mahasiswi Program Studi Manajemen Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan rancangan cross-sectional, yang melibatkan mahasiswi semester IV Prodi Manajemen sebagai responden sebanyak 82 mahasiswa. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner DASS- S untuk mengukur tingkat stress dan Shortened Premenstrual Assesment Form (SPAF) untuk menilai gejala PMS. Hasil penelitian diperoleh mayoritas responden memiliki tingkat stress dalam kategori sangat berat yakni 25 responden (30,5 %) dan mahasiswi mengalami gejala premenstrual syndrome (PMS) dalam kategori ringan yakni sebanyak 30 responden (36,6%). Hasil uji Spearman Rank didapatkan hasil nilai signifikansi sebesar 0,000 (< 0,005) yang berarti hipotesis nol (Ho) ditolak. Hal ini menunjukkan bahwa ada hubungan Tingkat stress dengan gejala premenstrual syndrome (PMS) pada mahasiswa Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta. Penelitian ini diharapkan kepada mahasiswi untuk mengelola stres dengan relaksasi, olahraga ringan, dan teknik pernapasan untuk mengurangi gejala PMS. Selain itu, kepada peneliti selanjutnya hendaknya untuk emperluas sampel dan mempertimbangkan faktor pola makan, aktivitas fisik, dan riwayat medis untuk hasil penelitian yang lebih representatif.


