Perbandingan Terapi Konvensional Dan Terapi Kontrak Rileks Stretching Terhadap Nyeri Penderita HNP (Hernia Nukleus Pulposus) di Klinik Tensittar
DOI:
https://doi.org/10.54100/bemj.v9i2.829Keywords:
Hernial Nucleus Pulposus, Pain, Conventional Therapy, Contract-Relax StretchingAbstract
Hernia Nukleus Pulposus (HNP) merupakan salah satu gangguan muskuloskeletal yang sering menimbulkan nyeri punggung bawah dan nyeri radikuler sehingga dapat mengganggu aktivitas fungsional penderitanya. Penatalaksanaan nyeri pada penderita HNP dapat dilakukan secara nonfarmakologis, antara lain melalui terapi konvensional dan terapi kontrak rileks stretching. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan efektivitas terapi konvensional dan terapi kontrak rileks stretching terhadap penurunan tingkat nyeri pada penderita HNP di Klinik Tenstittar.
Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan metode quasi eksperimen melalui pendekatan pretest–posttest control group design. Sampel penelitian terdiri dari pasien HNP yang dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok yang mendapatkan terapi konvensional dan kelompok yang mendapatkan terapi kontrak rileks stretching. Pengukuran tingkat nyeri dilakukan sebelum dan sesudah intervensi menggunakan instrumen Visual Analogue Scale (VAS). Data dianalisis secara univariat dan bivariat untuk mengetahui pengaruh masing-masing terapi serta perbedaan tingkat nyeri antar kedua kelompok. Hasil penelitian didapatkan p value 0,000 yang berarti bahwa baik terapi konvensional maupun terapi kontrak rileks stretching sama-sama efektif dalam menurunkan tingkat nyeri pada penderita HNP. Namun, terapi kontrak rileks stretching menunjukkan penurunan nyeri yang lebih signifikan dibandingkan terapi konvensional. Hal ini disebabkan oleh mekanisme kontraksi dan relaksasi otot yang mampu mengurangi spasme otot serta meningkatkan fleksibilitas jaringan. Kesimpulan dari penelitian ini adalah terapi kontrak rileks stretching lebih efektif dibandingkan terapi konvensional dalam menurunkan nyeri pada penderita HNP. Penelitian ini direkomendasikan sebagai intervensi nonfarmakologis yang dapat diterapkan dalam pelayanan kesehatan, khususnya pada penanganan pasien HNP.


